Materi PAIThis is a featured page

TELAAH PEMIKIRAN PENDIDIKAN
BADIUZZAMAN SAID NURSI
Oleh: Dahri*

Abstraksi: Diskursus mengenai pemikiran pendidikan adalah salah satu fenomena yang selalu berkembang sesuai dengan konteks sosio histories dan zamannya di mana tokoh tersebut berada. Pemikiran pendidikan yang digagas oleh Said Nursi tidak terlepas dari perjuangannya membenahi system pendidikan di negerinya yang mengalami dualisme atau dikhotomi. Sistem pendidikan yang diinginkan oleh Said Nursi adalah pendidikan yang tidak mengenal dikhotomi antara pendidikan agama dan sains. Wujud dari pemikiran Said Nursi untuk mengatasi dikhotomi pendidikan tersebut beliau berusaha mendirikan lembaga pendidikan yang di berinama Madrasah Az-zahrah, namun madrasa tersebut tidak dapat direalisasikan dikarenakan kurangnya dukungan dari pemerintah. Hal tersebut tidak membuat Said Nursi putus asa, untuk melanjutkan perjuangannya dalam merealisasikan cita-citanya di bidang pendidikan Said Nursi menuangkannya ide-idenya dalam tulisannya yang diberi nama Risalah an-Nur. Melalui Risalah an-Nur inilah ide-ide Said Nursi untuk mengatasi dikhotomi ilmu dalam sistem pendidikan berkembang, dan akhirnya beliau memiliki banyak siswa yang tergabung dalam Nurcu Movement (Dershaness).

Kata kunci: Telaah, pemikiran pendidikan Said Nursi

Pendahuluan
Persoalan pendidikan adalah salah satu hal yang sangat urgen kita cermati bersama, karena pendidikan pada dasarnya merupakan salah satu sarana yang dibutuhkan dalam rangka mengembangkan potensi fitrah yang dimiliki manusia. Dalam masyarakat dinamis, pendidikan menentukan eksistensi dan perkembangan masyarakat, sebab pendidikan merupakan usaha melestarikan, mengalihkan serta mentransformasikan nilai-nilai kebudayaan dalam segala aspek dan jenisnya kepada generasi penerus (H.M. Arifin, 2000 :10)

Di tengah-tengah situasi dimana umat Islam saat ini sedang mencari model pendidikan yang unggul dan terpadu sebagai upaya menjawab tuntutan kebutuhan masyarakat yang menggelobal dalam menghadapi arus perkembangan ilmu pengetahuaan dan tekhnologi modern (Abudin Nata, 2001: 4).

Salah satu upaya menjawab kebutuhan tersebut dengan pendidikan, karena pendidikan merupakan kunci utama untuk menjawab tantangan dan kebutuhan masyarakat yang ada saat ini, maka untuk itu kami mencoba mempelajari pemikiran Bediuzzaman Said Nursi, seorang tokoh pendidikan Islam dan menarik benang merahnya diadakan studi untuk mengetahui dinamika perkembangan pendidikan Islam, membahas keunggulan dan kekurangannya, serta mencari“key words dan key efforts” bagi kebangkitan di era persaingan global saat ini. Beberapa alternatif yang ditawarkan untuk membangun kerangka pemikiran pendidikan Islam dan implementasinya menjadi obat penawar bagi penyakit yang diderita oleh pendidikan Islam.
Untuk mencapai tujuan Islam sebagai titik sentral dalam segala hal maka diperlukan suatu landasan filosofis pendidikan yang relevan dengan kebutuhan pendidikan Islam Indonesia dan landasan filosfis pendidikan tersebut haruslah sepenuhnya berangkat dari cita-cita al-Qur’an tentang manusia, karena penguasaan terhadap sains sudah menjadi suatu hal yang mutlak bagi umat Islam yang ada saat ini.

Masalah klasik yang selalu menjadi bahan perdebatkan dengan kaitannya pendidikan agama Islam disekolah umum dengan jumlah jam pelajaran yang kurang memadai dan begitupun sebaliknya. Maka kalau kita lihat penguasaan disekolah umum dan perguruan tinggi umum dalam hal pengetahuan agama Islam cenderung kurang dan juga sebaliknya pada madrasah dan perguruan tinggi Islam kurang dalam hal penguasaan nuansa keilmuwan sains, walaupun tidak dapat kita menafikan bahwa pendidikan Islam kenyataan yang ada bahwa madrasah dan penguruan tinggi Islam dipersiapkan untuk menguasai disiplin ilmu keagamaan dan hal ini menimbulkan adanya dikhotomi yang terselubung antara ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum (science), dengan ungkapan lain ilmu tidak mempedulikan agama dan agama tidak mempedulikan ilmu. Begitulah sebuah gambaran praktek kependidikan dan aktivitas keilmuwan ditanah air sekarang ini dengan berbagai dampak negatif yang ditimbulkan dan dirasakan oleh masyarakat luas.

Perkembangan science perlu direspon oleh pendidikan Islam secara keseluruhan ditengah persaingan global yang semakin ketat dan tajam, maka untuk Tantangan diera globalisasi menuntut respon cepat dan tepat dari sistem tampil kedepan perlu diadakan re-orientasi pendidikan Islam dan rekonstruksi sistem dan kelembagaan yang merupakan suatu keniscayaan agar umat Islam tidak menjadi sebagai penonton terhadap perkembangan yang terjadi. Maka untuk meningkatkan kualitas pendidikan Islam di Indonesia yang masyarakatnya mayoritas muslim supaya tidak menjadi penonton haruslah mulai menginstropeksi diri dengan sistem pendidikan yang ada masih layak atau tidak dengan tuntutan kemajuan tekhnologi modern saat ini dengan peningkatan mutu pendidikan yang ada.

Untuk mencari arah pengembangan pendidikan Islam yang lebih akomodatif Penulis mencoba menelusuri pembaruan pendidikan yang ditawarkan oleh Bediuzzaman Said Nursi yang menginginkan tidak adanya dikotomi dan dualisme dalam pendidikan serta tidak ada pemisahan antara agama dan sains modern yang ditawarkan Bediuzzaman Said Nursi, dan di harapkan akan memberikan suatu kontribusi bagi perbaikan pendidikan Islam pada umumnya.

Riwayat Hidup dan Setting Sosialnya
Bediuzzaman Said Nursi dilahirkan pada tahun 1877 (1294 H)1di Nurs di daerah perkampungan kecil di daerah Khizan dalam wilayah Bitlis yang terletak di Timur Turki.2 Beliau juga dikenal “Said al-Nursi “ yang merujuk kepada tempat kelahirannya (Mohammad Zaidin bin Mat, 2001: 7).
Nursi dilahirkan dari keluarga petani sederhana. Ayahnya bernama Mirza3 dan ibunya bernama yang berasal dari keturunan Kurdi. Berdasarkan beberapa sumber ada yang mengemukakan bahwa nenek moyang Nursi berasal dari Isbartah (Isparta) dan mereka adalah salsilah keterunan ahlu al-.4
Said Nursi hidup pada masa pengaruh materialisme berada pada titik puncak kejayaannya dan juga pada masa itu orang sudah banyak yang gila karena pengaruh komunisme. Dia hidup disaat dunia mengalami krisis, karena terpesona dan takjub dengan kemajuan sains dan tekhnologi Barat. Pada periode kritis ini, banyak intelektual muslim yang menyimpang dari jalan yang benar dengan hanya menyandarkan intelektualitas mereka pada apa saja yang datang dari Barat.
Sekulerisme dan pengaruh Barat membuat umat Islam mengambil segala apa yang datang dari Barat tanpa melihat dan mempertimbangkan baik buruk yang akan terjadi akibat dari dampak sekulerisasi tersebut. Ketika pucuk pimpinan berada di bawah komando Mustafa Kemal attaturk. Dalam masa kepemimpinan Mustafa Kemal Attaturk terjadilah sejumlah perubahan yakni: Kekhalifahan ditanggalkan, undang-undang negara yang berdasarkan sayari’at Islam diganti dengan undang-undang Swiss, huruf Arab diganti dengan Latin dan Adzan yang berbahasa Arab diganti dan dikumandangkan dalam bahasa Turki dan seluruh yang menentangnya disingkirkan (Harun Nasution. 1996: 153).
Dalam perjalanan panjang yang dialami bangsa Turki di bawah sekulerisme Mustafa Kemal Attaturk yang melakukan perubahan sosial kemasyarakatan yang dipaksakan, maka pada saat itu tampillah Said Nursi memikul duka dan derita bangsa Turki dengan jalan menjauhkan diri dari dunia politik dan intriknya. Seluruh waktunya dikonsetrasikan untuk mempersiapkan Rasaile-I an-Nur dan menyebarkannya ke seluruh lapisan masyarakat yang pada masa itu dalam situasi amat sulit akibat pengaruh dan tekanan Mustafa Kemal Attaturk yang berkepanjangan serta keterpurukan yang dialami Turki dari kekalahan-kekalahan perang melawan penjajah yang memberi dampak terhadap kehidupan keagamaan.
Untuk mengobati itu maka tampillah Said Nursi dengan pemikiran-pemikirannya untuk mencerahkan rakyat Turki yang terealisasi dengan an-Nur yang ditulisnya, dengan harapan agar bangsa Turki tetap sebagai masyarakat Islam yang beriman dan dinamis serta menunjukkan dan mengajarakan kepada masyarakat sumber keimanan, dan menanamkan pada hati mereka harapan kuat akan suatu kebangkitan menyeluruh dari umat Islam dan membenahi sistem pendidikan Islam, karena kebangkitan umat Islam akan dapat dicapai jika umat Islam itu sendiri optimis akan kebangkitan Islam dan pendidikannya di benahi, sehingga Islam akan menjadi pemimpin peradaban dunia dalam segala persoalan yang dihadapi oleh umat manusia secara umumnya, dan terkhususnya kepada umat Islam.

Konsep Pendidikan Said Nursi
Pendidikan Menurut Said Nursi
Dalam pendidikan Said Nursi menitik beratkan pada perkembangan ilmu dan pendidikan, hal ini berangkat dari keprihatinan beliau yang melihat pendidikan Islam yang selama ini dalam prakteknya sering terjadi persepsi negatip bahwa agama dan sains tekhnologi tidak bisa bersatu. Untuk menghilangkan persepsi negatip umat Islam, maka Said Nursi menawarkan suatu pendekatan baru yang menggabungkan dua aliran ilmu yang selama ini dipisahkan anatara ilmu agama dan ilmu sains modern (Mohammad Zaidin bin Mat, 2001 : 20).
Pendidikan Islam (releqius seciensce ) dan ilmu pengetahuan umum (secular secience) dalam pandangan integrasi yang ditawarkan oleh Said Nursi adalah sebagai berikut :
The sciences of relgion are the light of the conscience, and the modern sciences are the light of the mind. The truth is manifested through of the combining of the two. The studebts endeavour will take flight on those two wings. When they are sparated, it’s leads to bigotry in the one, and doubles and sceptism in the other (Adem Tatli, 1996).
Maka kalau kita melihat dari definisi yang dikemukakan oleh Said Nursi tersebut dapat kita deskripsikan bahwa pendidikan Islam itu adalah cahaya bagi hati. Dan pengetahuan modern itu sebagai cahaya bagi alam pikiran/akal. Maka kedua-duanya menurut Nursi tidak dapat dipisahkan antara ilmu agama dan pengetahuan umum. Perjuangan Said Nursi mereformasi sistem pendidikan di Turki dengan memberikan suatu pemikiran dan sumbangsih supaya dapat menguasai agama dan sains secara keseluruhan bukan dipisah-pisahkan. Integrasi ilmu yang ditawarakan Said Nursi untuk menegasikan tema pengelompokkan disiplin “ilmu agama” secara implisit mengisyaratkan adanya dikotomi yang lazim dikalangan kaum muslimin tentang “ilmu agama” pada satu pihak, dikotomi yang muncul ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum dalam Islam ternyata masih bertahan dikalangan para pemikir dan praktisi pendidikan di banyak wilayah dunia Muslim baik dalam tingkat konsepsi maupun kelembagaan pendidikan.
Dalam dunia Islam yang terjadi selama ini adalah terjadi dikotomi pengetahuan yang membuat ketertinggalan umat Islam dari bangsa Eropa, sedangkan ajaran Islam dalam al-Qur’an penuh dengan pengetahuan dan kebenaran yang mutlak. Untuk mewujudkan pendidikan Islam yang terlepas dari dikhotomi ilmu yang menjamin keselamatan bagi manusia di dalam dunia ini, diperlukan dasar-dasar bagi sebuah pendidikan. Dalam pelaksanaan pendidikan untuk mengejar ketertinggalan umat Islam dari bangsa Eropa menurut Bediuzzaman Said Nursi ada empat hal yang menjadi faktor :
Pertama, meskipun setiap upaya kebenaran pastilah benar, tetapi tidak selamanya dianggap benar dalam kehidupan nyata. Sementara itu, tidak setiap jalan kesalahan dianggap salah. Karena kesalahan kadang-kadang mengikuti cara yang benar dan lurus, maka ia dapat menang atas kebenaran yang tidak mau mengikuti cara yang benar.
Kedua, meskipun setiap Muslim haruslah Muslim dalam segala sifat dan perbuatan, tetapi tidak demikian dalam kehidupan nyata. Sementara itu, sifat dan perbuatan orang-orang yang durhaka atau kafir tidak selalu berasal dari kedurhakaan atau kekafirannya. Oleh karena itu, dengan bersifat dan berbuat sesuai dengan prinsip-prinsip Islam lebih dari pada orang Islam yang tidak mau mempraktekkan Islamnya, orang kafir bisa menang atas orang Islam.
Ketiga, Allah memiliki dua jenis hukum. Pertama, syari’ah, yang diketahui oleh semua orang, yakni kumpulan hukum-hukum Allah yang berasal dari sifat firman-Nya dan mengatur kehidupan ‘beragama’ seseorang. Pahala atau hukuman akibat mengikuti atau meninggalkannya biasanya bertahan hingga diakhirat. Kumpulan hukum-hukum yang mengatur penciptaan dan kehidupan secara keseluruhan yang berasal dari sifat kehendak-Nya dan yang secara umum (tetapi salah) disebut ‘hukum-hukum alam’. Pahala dan hukuman dari hukum ini kebanyakan bertahan didunia ini saja. al-Qur’an dengan tandas menyeru agar kita memperhatikan fenomena-fenomena alam, yang merupakan bidang garapan sains, dan menyuruh kita mempelajarinya. Selama lima abad pertama sejarah Islam, umat Muslim berhasil menggabungkan sains dengan agama, intelektualitas dengan hati, material dengan dengan ruhani. Tetapi, selama beberapa abad kemudian, Barat mengambil inisiatif dalam sains. Ini menunjukkan kepatuhan mereka, meskipun secara tidak sadar, kepada hukum-hukum ‘alam’ Ilahiah, yang membuat mereka menguasai dunia Islam, yang umatnya gagal memperaktekkan aspek-aspek agama dan sains Islam. Kekuatan dan kekuasaan memiliki hak dalam kehidupan, keduanya diciptakan untuk tujuan yang bijak. Dengan dibekali dengan kekuatan dalam hal sains dan tekhnologi, Barat berhasil menguasai orang-orang Islam.
Keempat, kekalahan umat Islam adalah karena kebenaran telah ditinggalkan dalam keadaan lemah, atau telah dilumerkan, atau telah kehilangan kemurnian dan keotentikannya di tangan umat Islam. Seperti ditakdirkannya seekor elang untuk menyerang burung pipit harus mengembangkan kekuatannya untuk bertahan, Allah telah mengizinkan orang-orang kafir mendapatkan kemenangan dari umat Islam agar umat Islam berupaya kembali mendapatkan kemurnian aslinya dan kekuatannya (Epistomos of light) Nursi, 1996: XVII-XVIII).
Maka untuk mengejar ketertinggalan umat Islam dari bangsa Erofah menurut Said Nursi sangat perlu diadakan suatu wadah pendidikan yang diberi nama Madrazat al-Zahra yang bertempat di Bitlis dan diharapkan mampu menjawab permasalahan tentang kekalahan umat Islam tersebut sebagaimana berikut: 1) Nama : Madrazat al-Zahra’, 2) Sukatan pelajaran : digabungkan ilmu-ilmu agama dan sains modern, 3) Tenaga pengajar: dibuat pemilihan sama dari mereka yang berpendidikan dari bangsa Kurdi atau meraka yang boleh menguasai bahasa tempatan, 4) Kajian hendaklah dibuat bagi mengenal pasti tahap keupayaan pelajar supaya pembelajaran akan menghasilkan kesan yang maksima, 5) Diperkenalkan sistem “pengkhususan” kepada para pelajar supaya dapat menghasilkan graduan yang benar-benar menguasai sesuatu bidang yang diminati. Namun begitu, hubungan mereka dengan bidang-bidang yang lain masih diberi perhatian, 6) Graduan-garduan yang telah berjaya dalam pengajian mereka hendaklah diberi pertimbangan yang adil sepertimana yang diterima oleh para graduan dari institusi-institusi yang lain, 7) Sumber kewenangan: sama ada melalui harta wakaf, zakat, sumbangan masyarakat ataupun melalui pinjaman sementara (Mohammad Zaidin bin Mat, 2001: 26).
Pendirian institusi pendidikan Madrasat al-Zahra5 ini tidak berhasil dikarenakan munculnya Perang Dunia I yang sedang melanda negara Turki. Maka dalam keadaan Perang Dunia pertama Nursi turut serta dalam perjuangan membela negaranya. Dalam perjungan proses pengajaran Said Nursi pada murid-muridnya adalah dengan jalan membentuk kekuatan dan ketahanan dalam jiwa murid-muridnya dengan belajar menghafal al-Qur’an dan mendengar kuliah; pada masa meraka menjalani latihan perang dan berjaga dimalam hari. Dengan kata lain, ditangan kanan tergenggam al-Qur’an dan ditangan kiri pula terhunus senjata (Mohmammad Zaidin bin Mat, 2001: 50). Dalam penguasaan ilmu-ilmu modern Nursi belajar kepada para ahli-ahli dengan tidak melalui jenjang yang formal, begitupun yang diajarkan kepada murid-muridnya.
Pendidikan yang dibangun oleh Said Nursi setelah tidak berhasil mendirikan Madrasah Az-Zahra dilaksanakan peyelenggaraan pengajian-pengajian dimanapun tempat ia tinggal dengan mendapat banyak pengunjung, an-Nur mulai merambah kedesa-desa dan kampung-kampung yang berdekatan dengan kampung Perla. Dengan secara sembunyi-sembunyi risalah ini di baca dan dipelajari, bahkan sampai dibawa kekota-kota yang jauh dari Perla. Pada awalnya murid yang mempelajari Risalah an-Nur hanya puluhan, lalu bertambah ratusan, dan kemudian ribuan. Mereka terdiri dari laki dan perempuan yang tekun mempelajari dan mengkaji an-Nur (Ihsan Kasim Shalihi, 2003: 61).
Kejeniusan pemikiran Said Nursi cukup banyak menarik minat simpatisan terutama dari kalangan umat Islam yang menentang keras sekulerisasi. Mereka secara langsung atau tidak langsung mempelajari an-Nur. Sayangnya gerakan pendidikan Islam formal dibendung bahkan dimatikan oleh pemerintah, karena dipandang pemerintah dapat mempengaruhi kebijakan-kebijakan yang akan dilaksanakan. Sejalan dibendungya pendidikan formal lembaga madrasah, maka kegiatan pendidikan pindah ke bentuk pengajian- pengajian yang dikenal dengan Dershnes.
Berpindahnya pendidikan formal dari lembaga madrasah kedalam model pengajian-pengajian oleh pemerintah merupakan suatu jalan terbentuknya The Nurcu Movement (perkumpulan murid-murid Nursi dalam bentuk halagah atau dershnes). Pengajian dalam kelompok ini memuat 5 garis besar kegiatan antara lain: 1) Mengkaji konseptual interaksi kemodernan dan relegius, 2) Berniat menegakkan kembali keruntuhan kerajaan Usmani dengan kembali kepada tradisi keilmuwan yang integralistik, 3) Mengadakan kegiatan conversation (perbincangan), dan reading (membaca) tulisan Risale-i Nur, 4) Menyebarluaskan ajaran Risale-i Nur kepada masyarakat, 5) Mendirikan asrama yang menjadi akdemik centre (Hakan Yakus. Ilim triped. Com)

Dasar-Dasar Pendidikan Said Nursi
Secara Islami, pengajaran merupakan bagian dari kegitan mendidik manusia menjadi manusia yang mengetahui diri dan Tuhannya. Untuk mewujudkan pendidikan yang menjamin keselamatan bagi manusia dan alamnya ini, diperlukan dasar-dasar ataupun pondasi yang tercakup dalam karyanya an-Nur yang merupakan penjelasan dari ayat–ayat Al-Qur’an.
Al-Qur’an yang bijaksana, yang membuat kita mengetahui Tuhan kita, merupakan penerjemah abadi dari Kitab besar Alam Semesta; pembuka khasanah nama-nama Allah yang tersembunyi dalam halaman-halaman bumi dan langit; kunci kebenaran yang berada dibalik rangkaian peristiwa; khasanah karunia dari Yang Maha Pengasih dan tempat-tempat abadi yang datang dari alam Ghiab dibalik tabir alam yang kasat mata ini; matahari alam rohani dan akal budi Islam serta pondasi dan rancangannya, dan peta alam Akhirat; penjelas, penafsir yang jelas, bukti yang terang, penerjemah yang jelas dari esensi. Sifat-sifat, dan tindakan Ilahi, pendidik dan pelatih dunia manusia serta pembimbing, pemimpin, dan kebijaksanaanya yang benar: al-Qur’an adalah kitab kebijaksanaan maupun hukum, dan kitab doa dan ibadah, serta kitab perintah dan himbauan, dan kitab seruan dan ilmu Allah–al-Quran adalah kitab yang berisi kitab-kitab bagi semua kebutuhan rohani manusia, dan dia seperti perpustakaan suci yang menawarkan kitab-kitab dari semua wali dan manusia yang sangat terpercaya dan semua ulama yang suci dan teliti dengan berbagai tabiat telah memperoleh jalan khas bagi diri mereka masing-masing.
Pikirkan tentang cahaya kemukjizatan dalam pengulangan-pengulangannya, yang dibayangkan salah: karena al-Qur’an adalah kitab seruan dan doa maupun kitab himbauan, maka pengulangan perlu, dan bahkan paling perlu dan merupakan contoh keindahan yang tiada tara, berlawanan dengan anggapan yang salah. Karena seruan Allah memerlukan pengulangan untuk mengesankan dan mencerahkan hati. Dengan pengulangan, doa itu sendiri mendapatkan kekuatan dan memberi kekuatan kepada hati, serta menjadi berurat dan berakar didalamnya. Perintah dan himbauan membutuhkan pengulangan agar sah dan ditegakkan. Selain itu, setiap orang tidak mampu membaca keseluruhan al-Qur’an kapan pun ia mau, tetapi biasanya ia mampu membaca satu surah. Karena alasan itulah, maksud-maksud al-Qur’an yang paling penting diulang dalam sebagian besar surah panjang, yang masing-masing dapat berfungsi sebagai al-Qur’an kecil. Beberapa maksud dan tema tertentu seperti ke-Esaan Allah, kebangkitan orang-orang mati, dan riwayat Musa diulang agar tak seorang pun yang luput dari mendapat manfaatnya. Terlebih lagi, selera dan kebutuhan jasmani berbeda-beda, begitu pula selera dan kebutuhan rohani. Manusia membutuhkan sejumlah tertentu dari al-Qur’an disetiap helaan nafas ; seperti tubuh membutuhkan udara, roh membutuhkan unsur Hu-Huwa (Dia – Allah), dan seterusnya. Pengulangan ayat-ayat tersebut karenanya timbul dari berulangnya kebutuhan. al-Qur’an berulang untuk menunjukkan kebutuhan-kebutuhan itu, membuat ayat-ayat itu dirasakan secara mendalam, dan untuk menggugah manusia akan kepuasan mereka.
al-Qur’an juga merupakan pendiri: ia adalah dasar dari agama yang nyata, dan pondasi dunia Islam. Ia datang untuk mengubah kehidupan sosial manusia dan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sering diajukan dari kelas-kelas sosial yang berbeda. Karena itu, pengulangan diperlukan bagi pendiri untuk menegaskan, dan repetisi untuk menekankan. Pendirian baru membutuhkan penegasan dan penguatan, dan karenanya juga membutuhkan pengulangan.
Lagi, al-Qur’an berbicara tentang hal-hal penting itu dan kebenaran-kebenaran yang sulit dipahami, sehingga dperlukan pengulangan di dalam konteks yang berbeda untuk membuat pikiran dan kalbu manusia terkesan dalam aspek-aspeknya. Apapun yang terjadi, pengulangan itu tampak nyata. Senyatanya, kata mempunyai berbagai lapis makna, manfaat yang banyak, serta banyak aspek dan tingkatan. Di dalam masing-masing tempat, kata dan ayat tertulis dengan cara yang berbeda, dalam konteks berbeda, untuk mencapai tujuan, makna, dan manfaat yang berbeda.
Al-Qur’an menyebutkan masalah kosmologis tertentu dengan cara yang ringkas dan sulit dipahami. Hal ini tidak bisa menjadi sasaran kritik, dan bukan suatu kesalahan seperti yang dibayangkan oleh orang-orang atheis. Sebaliknya, hal ini adalah cahaya kemukjizatan yang lain, karena al-Qur’an dimaksudkan untuk membimbing manusia. (Menjawab Yang Tak terjawab dan Menjelaskan Yang Tak terjelaskan. Said Nursi, 2003: 272-273).
Dintara kandungan yang terpenting dalam an-Nur yang tulis oleh Said Nursi, ini juga menjadi sebagai dasar ataupun pondasi dari pengajarannya. Keistimewaan Dalam kandungan an-Nur dapat kita lihat sebagaimana menurut Zubayr Kunduz Alib diantaranya adalah: 1) Bersumberkan al-Qur’an, 2) Memperlihatkan al-Qur’an sebagai “panduan yang sempurna”, 3) Penulisan yang bermatlamatkan keredhaan Allah semata-mata, 4) Sesuai untuk semua lapisan masyarakat, 5) Penghujjahan yang mantap, 6) Dapat membina sahsiah dan kepribadian pembaca, 7) Gabungan antara perkataan dan tindakan, 8) Menghindari sentimen-sentimen pribadi (Mohammad Zaidin bin Mat, 2001: 106).
Prof . Mim Kemal juga mengungkapkan tentang keistimewaan yang terdapat dalam al-Nur sebagai berikut :
al-Nur adalah satu gerakan Tajdid, bukan hanya ilmu Kalam, bahkan juga berkenaan Al-Qur’an, kebenaran iman dan ilmu ketuhanan (ma’rifatu’Llah). Ia merupkan aliran keimanan yang baru, dimana akar-akarnya (puncanya) dari semenjak zaman lampau dan zaman Rasulullah. Sebagai aliran kepercayaan yang baru, an-Nur tidak hanya menerangkan kebenaran Al-Qur’an menerusi satu cara yang sesuai untuk pemahaman pada masa kini tetapi juga mentafsirkan Al-Qur’an dengan berpandukan kepada ilmu-ilmu sains dengan memberi contoh-contoh dari pada ‘buku alam’ dan subjek-subjek dalam Sains Kewujudan Alam Sejagat yang mana Al-Qur’an adalah penterjemah yang abadi (kekal). al-Nur membuktikan Islam adalah intipati kepada kesemua ilmu-ilmu yang benar. Mohammad Zaidin bin Mat,2001: 114).
al-Nur sebagai karya monumental Nursi menjadi salah satu acuan pokok dalam pengajarannya. Dalam pelaksanaan pengajaran Nursi menawarkan 13 point pola atau model pengajaran. Model dan pola pengajaran Nursi yang tercakup dalam karyanya Risale-I Nur yang dapat dijadikan basis efistemologi penegakan sistem pengajaran, yaitu: 1) Pendidikan berdasarkan pada sumber dasar Islam yaitu al-Qur’an dan As-Sunnah, 2) Kehidupan dunia dan akherat dianggap sebagai satu kesatuan (dipandang dalam satu pandangan), 3) Ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum (science) diajarakan bersama-sama, 4) Chauvinisme dan nasionalisme (rasa kebangsaan) tidak harus dikobarkan, tetapi justeru nasionalisme Islamlah yang dikedepankan/menjadi dasar, 5) Pendidikan berdasarkan persaudaraan, persatuan dan kesatuan, 6) Pendidikan yang diajarkan harus mencerminkan al-Qur’an, 7) Para siswanya harus memiliki rasa semangat, syukur, dan harapan, 8) Pendidikan harus dimulai dari individu itu sendiri (nafsnya), 9) Bakat/kemapuan dan keinginan manusia harus diperhatikan, 10) Pendidikan bersifat bebas, terbuka dan bermanfaat bagi masyarakat umum (society), 11) Pendidikan melalui pergerakan yang positif, 12) Para siswa dan sekolah tidak terlibat dalam gerakan politik, 13) Para pendidikan harus memiliki target dan tujuan yang tinggi dan murni (Halit Ertugrul, 1994: 106-113).
Mencermati persfektif tersebut sesungguhnya pendidikan Islam itu merupakan sarana pembumian dua sumber ajaran Islam yang bersipat tematik dan perlu dikaji melalui medium pengajaran yang berpradigma integralistik antara relegions dan sains, berjiwa humanis (membebaskan akal untuk mengembangkan logika dan berkreasi), memiliki visi dan misi yang jelas, mengutamakan kepentingan umat diatas kepentingan nasional dan pribadi. Tujuan Pendidikan Menurut Said Nursi Tujuan dari Said Nursi mendirikan institusi pendidikan agar menjadi batu asas bagi pembentukan kesejahteraan di Timur Tengah. Ia akan menjadi kubu yang kukuh dan akan memberikan manfaat yang besar untuk dunia dan manusia seluruhnya. Tujuan Said Nursi mendirikan institusi pendidikan tidak terlepas dari kepentingan-kepentingan yang mendesak karena pengaruh setting sosial pada saat itu yang terjadi di negara Turki, dimana pada masa itu Turki mengalami kebodohan dan taqlid buta membuat kemunduran yang sangat mendasar sebagai berikut: 1) Kebodohan kaum muslim, 2) Tersebarnya (ideologi keagamaan) orang-orang Syi’ah, 3) Bahaya pemikiran sempit kelompok, 4) Bahaya penjajahan Barat yang ingin menghancurkan keberadaan umat Islam, 5) Bahaya perang pemikiran (Himadiy al-Hajariy, 1999-2000: 153).
Melihat fenomena tersebut diatas yang melanda negara Turki, maka menurut Said Nursi perlu diadakan reformasi/perbaikan dalam pendidikan untuk menjaga kesinambungan dan kelangsungan negara Turki. Reformasi pendidikan yang dilaksanakan diharap dapat menciptakan kesejahteraan dan memberikan manfaat di Turki dan Timur tengah serta untuk dunia. Kepentingan-kepentingan Said Nursi dalam perbaikan pendidikan di Turki sebagai berikut: 1) Menjamin masa depan golongan agama sama ada berbangsa Kurdi atau Turki, 2) Menyebarkan ilmu pengetahuan kepada masyarakat Kurdi melalui bidang pendidikan, 3) Mendorong kearah proses sistem pelembagaan dan kebebasan (Mahammad Zaidin bin Mat, 2001: 26).
Namun yang paling urgen dalam pembaruan pendidikan yang ditawarkan Said Nursi nantinya diharapkan muncul kepermukaan suatu perbaikan dalam dunia pendidikan yang selama ini terkesan kaku dan tidak terbuka terhadap perkembangan zaman. Pembaruan pendidikan yang diadakan Said Nursi output-nya akan menghasilkan suatu institusi pendidikan yang konprehensif dan dinamis seperti yang akan beliau laksanakan pada Madrazat Az-Zahra, sebagai berikut: 1) Menyatukan sekolah-sekolah agama dan pembaruan terhadap sistem pendidikan, 2) Perbaikan-perbaikan Ulama’, 3) Menyelamatkan Islan dari sifat taqlid Israilliyat dan dari sifat fanatic, 4) Membuka peluang berkembangnya ilmu dan perbaikan dalam dunia pendidikan. (Hamidy al-Hajariy, 1999-2000: 162).
Sebenarnya tujuan utama dari pembaruan pendidikan yang direncanakan oleh Sadi Nursi adalah untuk membebaskan umat Islam dari peradaban barat yang dianggapnya akan melunturkan kultur dan ajaran Islam terhadap kaum muslim. Ketika “Said Baru” melakukan perenungan dan reflekksi, berbagai pengetahuan filosofis Barat beserta berbagai disiplinnya yang tadinya sempat bersemayam di pikiran Said Lama berubah menjadi penyakit-penyakit kalbu yang menyebabkan munculnya berbagai problem dan dilema di dalam perjalanan spiritual tersebut. Yang bisa dilakukan Said Baru hanyalah membersihkan pikirannya dari karat-karat filsafat dan sampah-sampah peradaban yang kotor itu. Ia melihat dirinya harus melakukan dialog baru dengan sosok Barat guna menekan hasrat jiwanya yang condong kepada Barat. Kadangkala dialog tersebut singkat, tetapi kadangkala panjang. Said Nursi.Lama'at. 2003 : 220-221).
Agar kita tidak salah paham dalam melihat dan mendefinisikan tentang Barat, maka kita harus memahami terlebih dahulu pandangan Said Nursi tentang Barat itu sendiri. Menurut Said Nursi Barat itu ada dua yakni: Pertama, Barat yang memberikan manfaat bagi umat manusia, yang berisi agama nasrani yang benar, serta yang telah melayani kehidupan sosial mereka dengan beragam industri dan pengetahuan yang mengabdi pada keadilan dan kejujuran. Kedua, yang telah rusak oleh gelapnya filsafat atheisme dan hancur oleh filsafat materialisme di mana ia menganggap keburukan sebagai kebaikan dan menempatkan kejahatan sebagai keutamaan. Dengan begitu ia telah menggiring umat manusia kepada kebodohan dan menjerumuskan mereka kepada kesesatan dan derita.
Menurut Said Nursi peradaban Barat pada tingkatnya yang sekarang ditegakkan atas lima prinsip negatif: 1) Ditegakkan dan berdiri dengan dasar kekuasaan, dan kekuasaan cenderung menindas, 2) Bertujuan mewujudkan kepentingan pribadi; pencapaian kepentingan pribadi menyebabkan orang secara membabi buta tergesa-gesa melakukan sesuatu untuk mencapai kepentingan pribadi itu segera, 3) Pemahaman dan filsafatnya tentang hakekat hidup adalah perjuangan; dan perjuangan menyebabkan konflik internal dan eksternal, 4) Ia menggabungkan massa rakyatnya berdasarkan pada pemisahan kebangsaan atau rasial, dan memberi makan rakyatnya dengan sumber daya dan wilayah ”orang lain” padahal raisme mengarah pada tubrukan hebat antar masyarakat, 5) Layanan yang ditawarkan kepada rakyat adalah pemuasan hasrat atau keinginan baru yang ia tumbuhkan sendiri; dan (apakah kepuasan itu nyata atau tidak) layanan ini membuat rakyatnya brutal (Lama'at. Said Nursi, 2003 : 631-632).
Maka untuk menghadapi peradaban barat tersebut Said Nursi mengatakan haruslah dimbangi dengan peradaban Islam yang ditegakkan atas dasar: 1) Peradaban yang ditegakkan atas dasar hak, tidak ditegakkan atas kekuasaan; dan hak mengkhendaki keadilan dan keseimbangan, 2) Peradaban Islam bertujuan memotivasi orang berbuat kebaikan, yang merupakan dorongan bagi kasih sayang dan cinta timbal balik, 3) Pemahaman dan filsafatnya tentang hakekat hidup bukan perjuangan, tetapi bentukan timbal balik, yang mengarah pada persatuan dan solidaritas, 4) Peradaban Islam menyatukan orang berdasarkan persamaan agama dalam sebuah negara bersama yang mengarah kepada perdamaian internal dan persaudaraan dan pertahanan diri ikhlas terhadap musuh dari luar, 5) Islam membimbing manusia menuju kebenaran. Oleh karena itu, disamping memotivasi orang untuk memajukan ilmu pengetahuan (sains), peradaban Islam juga meningkatkan hidup manusia melaui kesempurnaan moral sampai tingkat kemanusiaan yang tinggi (Menjawab Yang Tak Terjawab. Said Nursi, 2003: 632-633)
Islam dengan Al-Qur’anul Karim memberikan ketinggian dan kelapangan jiwa kepada muridnya. Sebab, sebagai ganti dari sembilan puluh sembilan butiran tasbih – sebuah rangkaian yang tersusun dari biji-biji itu – diberikan ke tangan mereka sembilan puluh sembilan nama-nama-Nya yang mulia seraya berkata, “Bacalah wirid-wiridmu dengan rangkaian tasbih itu !”. Sesuai dengan perannya, mereka pun membaca wirid-wirid mereka dengan tasbih itu dan mereka mengingat Tuhan mereka dengan bilangan yang tidak terbatas (Lama'at. Said Nursi, 2003: 228).
Pada saat ini peradaban Barat telah membius perasaan dan kesadaran manusia hingga pada tingkat di mana mereka yang berjalan dalam peradaban modern ini tidak lagi menghiraukan akan ketinggian al-Qur’an dan kemuliannya. Kealpaan umat manusia selama ini dalam mempedomani Barat mulai pudar sejalan dengan berkembangnya kesadaran ilmiah, disamping adanya ancaman berupa kematian yang memperlihatkan jenazah sekitar tiga ribu orang setiap hari.
Maka untuk mengobati hal tersebut haruslah ditegakkan peradaban Islam yang mampu untuk menjawab dan menandingi peradaban Barat. Tidaklah ada jalan lain yang ditempuh kecuali dengan mulai menanamkan rasa kepatuhan terhadap ajaran Islam, dan memperbaiki pemahaman kita tentang Islam melalui pendidikan. Prinsip-Prinsip Filosofis Pendidikan Said Nursi Pandangan brilian yang dimiliki oleh Said Nursi nampaknya begitu menitik beratkan soal perkembangan ilmu dan pendidikan. Pengalamannya dalam belajar yang beliau jalani telah menyadarkan dirinya tentang perlunya diadakan suatu perubahan dalam sistem pendidikan. Untuk itu, beliau telah menggunakan suatu pendekatan baru dalam pengajaran dengan orientasi menitik beratkan pada soal perkembangan ilmu pengetahuan dalam pendidikan, yakni menggabungkan dua aliran ilmu yang sebelumnya dipisah-pisahkan yaitu ilmu agama dan ilmu sains modern.
Pendekatan inilah yang dilakukan di madrasah yang didirikan beliau, yaitu pada Madrasah Khur-Khur. Usaha ini memberi kesan yang positif ke arah memantapkan pemahaman dan keintelektualan pelajar. Nursi ingin membuang persepsi negatif masyarakat yang melihat agama dan sains tekhnologi tidak bisa bersatu (Ihsan Kasim Shalihi, 2003 :17).
Pandangan Nursi tersebut akan menyadarkan umat Islam untuk menguasai kedua bidang ilmu itu untuk survival di masa mendatang, sebagaimana ia berpegang pada pendirian: The sciences of relgion are the light of the conscience, and the modern sciences are the light of the mind. The truth is maniifested through of the combining of the two. The studebts endeavour will take flight on those two wings. When they are sparated, it’s leads to bigotry in the one, and doubles and sceptism in the other. (Adem Tatli, 1996: 6). Ancaman Barat yang exstreme ini, ditanggapi serius oleh Said Nursi. Ia melihat institusi pendidikan perlu diberi penekanan. Sejak dari detik ini, Said Nursi berusaha gigih untuk mendirikan sebuah Universiti di Timur Turki yang akan dinamakan Madrasat al-Zahra.
Madrazat al-Zahra yang akan dibangun oleh Said Nursi ini akan mengambil contoh Universitas al-Azhar di Mesir. Maka untuk merealisasikan idenya itu, Said Nursi pergi ke Istanbul dalam tahun 1896. Beliau berada disana selama hampir satu setengah tahun dan kepergian beliau ini bertujuan untuk menjelaskan ide beliau untuk mendirikan institusi pendidikan dan ide beliau untuk mendapat dukungan dari para penguasa yang mempunyai pengaruh dalam pengambilan kebijakan tersebut. Tetapi malangnya, usahanya ini tidak berhasil sesuai dengan yang beliau harapkan. Akhirnya Said Nursi kembali ke Wan (Mohammad Zaidin bin Mat, 2001: 21-22).
Pandangan Said Nursi yang ingin diuji cobakan dalam sebuah Universiti az-Zahrah terdapat dalam tulisannya, yang terangkum sebagai berikut : 1) Menurut Nursi pada tipe pengajaran disekolah-sekolah yang lama (zaman Usmani) ilmu-ilmu utama seperti fiqih, akhlak, hadits dan tafsir justeru ditinggalkan, tetapi yang ditekankan hanya ilmu tata bahasa Arab. Hal ini yang menyebabkan jiwa dari pendidikan itu hilang, karena murid hanya disibukkan pada hal-hal yang bersifat mekanis. 2) Said Nursi juga menyarankan agar tipe pendidikan yang bersifat sangat umum ditinggalkan tetapi diarahkan pada konsentrasi kebidang-bidang yang lebih khusus. 3) Para pendidik sebelum mengajarkan sesuatu, harus menerapkannya dahulu pada dirinya sendiri, karena amal atau perbuatan lebih berpengaruh dari pada lisan. 4) Sebelum mengajar, kita harus terlebih dahulu mengetahui latar belakang siswa, seperti zamannya, landasannya, sifatnya dan tingkatannya, agar pendidikan lebih efisien (maffing). 5) Ketika menemukan hal-hal yang negatif pada siswa kita tidak boleh hanya mengkritik atau menyalahkannya, justru kita harus mengarahkannya ke arah hal yang lebih positif. 6) Selalu mengulang pelajaran adalah hal yang sangat penting dalam dunia pendidikan. 7) Kita harus selalu menekankan pentingnya pendidikan bagi para siswa dan sekaligus kita tidak boleh mengabaikan akhlak mereka. 8) Para pendidik harus dihormati dan diberi imbalan yang tinggi agar mereka memilki harga diri dan kedudukan (Halit Ertugrul, 2002:106-113).
Selain hal tersebut dalam tulisan Zaidin, dijelaskan tentang pendirian az-Zahra ditopang sepenuhnya oleh masyarakat, bukan pemerintah, sebab jelas pemerintah tidak mendukung usaha tersebut. Dalam perjalanan panjang Said Nursi hendak mendirikan sebuah institusi pendidikan yang fomal tidak tercapai dengan cemerlang, namun demikian uasahanya untuk mencerahkan pemikiran umat berhasil dan membuahkan hasil yang cukup memuaskan, dan murid yang mempelajari al-Nur tersebar diseluruh Tuki dan diluar Turki, dapat kita lihat sebagaimana yang dikatakan Prof. Dr. Hee Soo Lee dalam makalahnya sebagai berikut:
Risae-I Nur a Qur’anic comentary providing the truths of believes by a method by Bediuzzaman Said Nursi. It blends scienses and the truths of relegion and uniquely addresses the mentality of modern. The Risale-I Nur had unparalled succes in strengthenig belief and combatting atheism and materialist philosphy, so that by the 1950’s it had hundred of thousands of “ Nur Talalabeleri” in Turkey and abroad (Hee Soo Lee. Palembang January, 11-12, 2002: 3-4).
Umat Islam saat ini harus menguasai sains dan tekhnologi (dua sayap) karena keduanya merupakan alat untuk terbang menjelajahi dunia dan mengetahui perkembangannya, sehinga dengan alat tersebut umat akan mampu menduduki posisi di atas laksana burung yang senantiasa berada diatas udara. Menurut Nursi untuk menguasai zaman saat ini maka diperlukan langkah-langkah dalam mengkuti perkembangannya sebagaiaman yang diungkapkan beliau sebagai berikut: “Zaman sekarang yang asing ini kaum mukminin sangat memerlukan Rasail an-Nur begitu pula halnya dengan para pendidik disekolah-sekolah modern, mereka pun sangat memerlukan ‘Asha Musa6. Tidak terkecuali dari itu para ulama syari’at dan para pengajar al-Qur’an, mereka juga memerlukan Dzul al-fiqar”.7
Kalau kita teliti kurikulum pendidikan yang diajarkan Said Nursi tidaklah tersusun seperti yang ada pada saat ini, namun semuanya sudah tercakup dalam an-Nur yang disusunnya sebagaimana ungkapan beliau sebagai berikut :
Setelah para pelajar Madasah an-Nur memperoleh keyakinan yang mantap dalam keimanan dan setelah hatinya mantap dengan mempelajari al-Kalimat, ia pun berlanjut dengan mempelajari al-untuk berkenalan dengan jawaban-jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang sangat banyak atau agar ia dapat hidup menyertai Rasulullah SAW. Setelah itu, ia belanjut lagi dengan mempelajari al-agar dapat hidup bersama Nabi dan dapat menjaga diri dari perangkap syetan, juga ilmu-ilmu modern yang menyesatkan. Setelah itu, pada akhirnya ia diharapkan dapat mendaki tingkat, bisa menikmati makna-makna al-Asma’, setelah sebelumnya ia terlebih dahulu berkenalan dengan makna-makna tersebut dalam al-Kalimat.
Bagi pelajar yang merasa dirinya takut atau ragu dalam menghadapi orang-orang sesat dan para pengikut mereka, ia harus mempelajari asy-. Sebab, kandungan di dalamnya berupa ajaran tauhid yang murni dan masalah-masalah Dajjal, juga tentang pembelaan Syaikh Said Nursi di depan berbagai pengadilan.
Ketika berbagai peristiwa sehari-hari dan memerangi hawa nafsu, juga ketika manusia di setiap hari berubah, maka sudah seharusnya pelajar Madrasah an-Nur merasa perlu untuk menguasai fiqih amal. Dengan demikian, Syaikh Said Nursi telah mengarahkan risalah-risalahnya kepada mereka yang mendekam di penjara-penjara dan berada di pengasingan-pengasingan serta kepada mereka yang berada dalam berbagai keadaan yang berlainan. Beliau telah mendorong mereka untuk terus berkarya dan menempuh jalan musyawarah dalam menyelesaikan masalah di antara mereka. Kemudian mereka di ingatkan jangan sampai terperangkap oleh tipu daya orang-orang dan setan. Semua ini dapat ditemukan oleh pelajar Madrasah an-Nur dalam al-.
Tetapi hal ini tidak berarti bahwa pelajar Madrasah An-Nur dalam studinya tidak usah berlanjut dari satu kumpulan pada kumpulan yang lain, sebab, pada setiap kumpulan terdapat aroma khusus yang tidak akan diperoleh selain pada kumpulan tertentu.
Sedangkan berkenaan dengan norma-norma kemasyarakatan dan politik, hal ini dapat di temukan dalam al-Khutbah asy-syamiyyah. Dalam risalah tersebut telah dikemukakan prinsip-prinsip dasar yang bersifat umum tentang norma-norma kemasyarakatan dan politik. Risalah-risalah yang lain pun memuat juga tentang aspek ini, sebagaimana dapat kita temukan secara detail dalam as-dan al-. Oleh karena itu, pelajar Madrasah an-Nur dapat melakukan penilaian terhadap berbagai peristiwa yang terjadi bedasarkan kaca mata iman, terutama mengenai masalah-masalah yang dimuat dalam al-( Ihsan Kasim Shalihi, 2003: 178-179).
Ajaran yang termuat dalam an-Nur adalah suatu pelajaran yang sarat dengan pengetahuan-pengetahuan mengembangkan daya pikir dan kreativitas untuk siswa. Hal ini sungguh jauh berbeda dengan pelajaran yang diterima dan dipelajari oleh murid-murid tokoh sufi yang lainnya. Murid Madrasah an-Nur berbekal dalil-dalil yang dapat menghadapi dan menantang dunia, sedangkan murid tokoh sufi adalah bersikap pasrah. Hal inilah yang membedakan pengikut an-Nur dengan yang lainnya.
Dalam an-Nur kita tidak hanya mendapati ajaran-ajaran menuju ke akherat belaka tetapi juga akan kita dapati dasar-dasar kaidah analisa ilmiah dan motivasi yang harus di miliki bagi setiap orang yang mengkaji untuk menguasai satu bidang keilmuwan tanpa disibukkan atau berpaling kepada keilmuwan yang lainnya. Kemampuan dalam menguasai ilmu menurut Said Nursi: ”sesungguhnya seseorang tidak bisa menguasai semua bidang ilmu kecuali satu bidang ilmu saja. Ia hanya bisa menguasai empat atau lima bidang keilmuwan dan ia sudah di sebut orang yang berilmu (Ihsan Kasim Shalihi, 2003 : 194).
Murid-murid an-Nur tidak akan dan tidak semestinya mencari cahaya yang berada di luar wilayahan-Nur. Seandainya pun salah seorang dari mereka yang mencarinya pasti yang didapat hanyalah sebuah lentera sebagai ganti dari ‘mentari’ yang bersinar lewat jendela an-Nur. Bahkan ia kehilangan mentari tersebut. Sebagaimana menurut Ihsan Kasim Shalihi :
an-Nur mengarahkan pada pendapat tentang pentingnya nilai-nilai agama yang tak terpengaruh oleh perguliran zaman dan berbagai macam penemuan ilmiah. Dan dari sisi ini pula ia menjelaskan permasalahan-permasalahan tersebut bagi dalam bidang akidah atau sosial ketika keimanan sebagaimana didefinisikan oleh Said Nursi sendiri adalah cahaya yang tumbuh dari pengakuan dan pembenaran terhadap nilai-nilai agama secara mendetail sedangkan selain itu adalah bersifat umum. Karena itu haikat keiamanan adalah dasar pertama dalam Rasail an-Nur (Ihsan Kasim Shalihi, 2003 : 2004).
Wilayah an-Nur merupakan wilayah yang sangat luas dan jumlah murid mempelajarinya sangat banyak. Jadi tidak usah mempedulikan orang-orang yang menjauh darinya. Bisa jadi risalah tersebut tidak akan pernah lagi memasukkan meraka kedalam wilayahnya. Sebab manusia memiliki kalbu. Dan kalbu yang satu tidak bisa berada di dalam dan diluar wilayah ini sekaligus.
Dalam hal ini tampak jelas bahwa menggabungkan diri dengan an-Nur merupakan hal yang sangat penting dan berharga. Orang yang mendapat petunjuk yang telah berkorban dan berjuang melawan kekufuran atas nama dunia Islam tidak akan mungkin meninggalkan jalan ini yang lebih berharga daripada intan permata. Ia juga tidak akan mungkin masuk ke jalan yang lain (Lama’at. Said Nursi, 2003: 518-519)
Ketika Al-Qur’an menjadi sumber inspirasi bagi an-Nur (sebagaimana sering disebutkan oleh Said Nursi) maka tema yang disampaikan di dalamnya tidak lepas dari ayat-ayat al-Qur’an. Kita akan melihat an-Nur mengajak kita untuk melihat kehebatan al-Qur’an secara menyeluruh sebagaimana al-Qur’an menyeru umat manusia untuk berusaha dan terus bekerja demi mencapai apa yang terdapat di dalam al-Qur’an serta menggali mukjizat yang belum diketahui oleh manusia sebagaimana yang telah didapatkan oleh para Nabi.
Dalam menerangkan ilmu pengetahuan modern seperti dalam ilmu fisika an-Nur dibuktikan dengan menggunakan metode sebagai berikut: 1) Puncak ilmu pengetahuan dan batas-batasnya telah digariskan oleh para Nabi melalui mukjizatnya, semuanya bersumber dari Asma’ul Husna, 2) Ilmu modern yang ditemukan dan dibanggakan oleh manusia adalah hal yang sangat sederhana karena tidaklah pantas dibanggakan melebihi ketentuan Allah, 3) Setiap penemuan yang dihasilkan oleh ilmu pengetahuan tidak lain adalah nilai-nilai Allah dalam bentuk realita sebagai sarana yang terbaik untuk melihat hikmahnya, kekuasannya dan kebesarannya, 4) Perlu adanya prioritas pengembangan pemikiran bagi manusia dalam melihat langit dan bumi sebagai pembiasan ibadah berpikir, 5) Diperlukan pengambilan contoh untuk mempersiapkan akal dan jiwa menerima ayat-ayat al-Qur’an dan hadits dengan penuh ketaatan karena akal akan terasa sempit tanpa di sirami oleh air ke-Islaman dan untuk mendapatkan hal tersebut melalui pengkajian al-Qur’an dan al-Hadits (Lama’at. Said Nursi, 2003: 197)
Menurut Nursi ilmu pengetahuan yang didapatkan tidak terlepas dari sumber utamanya yaitu al-Our’an. Maka dampak dari perkembangan ilmu pengetahuan modern yang tidak memperhatikan sumbernya menyebabkan kurikulum disekolah-sekolah dan yang menumpuk di otak para pelajar hanyalah urusan ilmu dan tekhnologi saja sampai-sampai di jadikan standar kebahagiaan, sedangkan ilmu yang bersumber dari al-Qur’an yang bersumber dari al-Qur’an dan as-Sunnah diabaikan. Kurikulum itu juga membuat para pelajar berani melontarkan pertanyaan; “ Kalau anda mengatakan bahwa Al-Qur’an diturunkan untuk manusia mengapa ia tidak menjelaskan sesuatu yang berkaitan dengan kemajuan tekhnologi saat ini secara jelas tapi hanya memberikan keterangan secara tersirat dan penjelasan yang tak kuat? Untuk menjawab pertanyaan tersebut menurut Said Nursi ialah bahwa kemajuan peradaban modern tidak memerlukan lebih dari penjelasan-penjelasan sebatas tersirat karena fungsi yang mendasar dari al-Qur’an ialah menjalankan nilai ketuhanan, kesempurnaannya dan nilai ibadah dan tata caranya. Karena itulah tuntutan kemajuan modern hanyalah dijelaskan dalam simbol yang tersirat saja. Ini disebabkan kalau nilai peradaban modern meminta hak-haknya dibandingkan dengan nilai ketuhanan maka nilai peradaban modern itu akan mendapatkan hak yang sangat kecil (Lama’at. Said Nursi, 2003: 195)
an-Nur mengarahkan orang pada pemahaman tentang pentingnya nilai-nilai agama yang tak terpengaruh oleh perguliran zaman dan berbagai macam penemuan ilmiah. Dan dari sisi ini pula ia menjelaskan permasalahan-permasalahan tersebut terbagi kedalam bidang akidah atau sosial ketika keimanan sebagaimana didefinisikan oleh Said Nursi adalah cahaya yang tumbuh dari pengakuan dan pembenaran terhadap nilai-nilai agama secara mendetail sedangkan selain itu adalah bersifat umum. Karena itu hakikat keimanan adalah dasar pertama dalaman-Nur.

Metodologi Pengajaran Said Nursi
Metode dalam bahasa Arab, dikenal dengan istilah, “Thariqah” yang berarti langkah-langkah strategis dipersiapkan dan dilakukan untuk melakukan suatu pekerjaan. Metode pengajaran dalam pendidikan yang ditawarkan oleh Said Nursi dalam penerapannya menyangkut permasalahan individual atau sosial peserta didik yang dihadapi oleh para pendidik. Maka para pendidik/guru harus memperhatikan dasar-dasar metode dalam pengajaran. Dalam suatu pendidikan diperlukan metode agar tercapai tujuan yang di inginkan dan tidak menyimpang dari tujuan semula. Maka metode pengajaran sebagai epistemologi dalam pendidikan menurut Said Nursi dapat kami kalsifikasikan secara rinci sebagaimana yang kami dapatkan dari berbagai karya beliau dan juga tulisan-tulisan tentang pemikiran beliau tentang pendidikan sebagai berikut :

1. Pendidikan berdasarkan pada sumber dasar Islam al-Qur’an dan as-sunnah.
Pendidikan yang berdasarkan pada sumber dasar Islam yaitu Al-Qur’an sebagai terjemahan abadi dari kitab alam semesta9. Al-Qur’an bagi umat manusia adalah sebuah kitab yang memuat ajaran tentang hukum, doa, kebijaksanaan, ibadah dan pengabdian kepada Allah, perintah-perintah dan undangan, doa dan renungan. Al-Qur’an sebuah kitab yang maha sempurna untuk semua kebutuhan spiritual kita dan juga amat menyenangkan seperti perpustakaan suci, yang menjadi pegangan semua orang suci, orang-orang yang jujur, pelajar-pelajar yang cerdas dan jujur yang mempunyai pengetahuan tentang Allah. (Bediuzzaman Said Nursi “Dari Balik Lembaran Suci”. 2003: 69-71) Sunnah adalah suatu perkataan Rasul yang mengandung sumber kekuatan dari hukum dan undang-undang Islam (Menjawab yang Tak terjawab. Said Nursi, 2003 : 33)

2. Pendidikan berdasarkan persaudaraan dan persatuan
Pendidikan berdasarkan persaudaraan dan persatuan perlu dikembangkan antara pendidik dan anak didik dalam keakraban tidak secara material, karena segala sesuatu yang dimulai dari sifat dan tindakan yang baik itu berasal dari cinta dan akan menimbulkan cinta kepada tindakan-tindakan serta sifat-sifat perbuatan yang baik karena cinta bersifat mudah menular sehingga mudah disebarkan dan diterima oleh semua orang. Karena alasan inilah mereka mengatakannya dalam pribahasa, ”Sahabat dari seorang adalah sahabat; dan seperti dalam bahasa semua orang banyak hal disukai karena kebaikan suatu hal”. Sedangkan permusuhan dan kebathilan adalah kebalikan dari pada kebenaran sebagaimana menurut Said Nursi kebathilan timbul dikarenakan pada kecenderungannya pada permusuhan yang muncul karena tidak mampu melihat kebenaran (Menjawab yang Tak terjawab. Said Nursi, 2003: 356).

3. Pendidikan harus dimulai dari dari diri sendiri.
Pendidikan manusia harus dimulai dari anggota yang paling kecil terlebih dahulu utamanya dari diri sendiri sebagaimana menurut beliau: “ …orang yang tidak mampu memperbaiki jiwanya sendiri tidak bisa memperbaiki jiwa orang lain, maka aku mulai memperbaiki jiwaku sendiri….”. Para pendidik juga sebelum mengajarkan sesuatu, harus menerapkannya dahulu pada dirinya senidiri, karena amal atau perbuatan lebih berpengaruh dari pada lisan (Alegori Kebenaran Ilahi. Said Nursi, 2003: 134).

4. kemampuan siswa harus diperhatikan.
Siswa harus diarahkan sesuai dengan kemampuannya dan disesuaikan dengan minat dan bakatnya, karena jika siswa diarahkan sesuai dengan minat meraka maka siswa akan termotivasi untuk mendapatkan ilmu, sebaliknya jika tidak diarahkan sesuai dengan kemampuan mereka maka yang terjadi menurut Said Nursi ”Seseorang yang meninggalkan apa yang ia mampu dan mencoba sesuatu yang dia bukan ahlinya, itu merupakan ketidakpatuhan terhadap hukum ciptaan”. Selanjutnya sebelum mengajar, kita harus terlebih dahulu mengetahui latar belakang siswa, seperti zamannya, landasannya, sifatnya dan tingkatannya, agar pendidikan lebih efisien (maffing). (Syari’ah Hilqaat. Said Nursi: 1997).

5. Pendidikan melalui pergerakan yang positif
Dalam praktek pengajaran para peserta didik harus diarahkan kepada hal-hal yang baik dan positif. Ketika menemukan hal-hal yang negatif pada siswa kita tidak boleh hanya mengkritik atau menyalahkannya, justru kita harus mengarahkannya ke arah hal yang lebih positif (Emirdaag Koleksi, 1998), lebih lanjut menurut beliau dalam pendidikan chauvinisme dan nasionalisme (rasa kebangsaan) tidak harus dikobarkan pada peserta didik , namun yang lebih dikedepankan adalah nasionalisme Islam yang menjadi prioritas utama untuk disampaikan kepada diri para siswa agar nilai-nilai Islam melekat pada kepribadian mereka secara personality, tetapi sekolah sebaiknya tidak telibat dalam gerakan politik.

6. Para pendidik memiliki target dan tujuan yang murni
Sebuah pengajaran akan tercapai jika dilandasi dengan target dan tujaun yang hendak dicapai karena sebagaimana ungkapan beliau: ”maka siapa yang tumpuannya terhadap umatnya maka dirinya itu umpama satu umat kecil, barang siapa yang hanya memikirkan kepentingan pribadi dan tidak mengambil kepedulian terhadap kepentingan umat, maka nilainya menjadi rendah kepada satu individu saja.” Selanjutnya menurut beliau kita juga harus selalu menekankan pentingnya pendidikan bagi para siswa dan sekaligus kita tidak boleh mengabaikan akhlak mereka (Hutbah Samiye, 1997).

7. Penggabungan antara ilmu agama dan ilmu umum (science) dalam pembelajaran
Dalam proses pembelajaran, ilmu umum (secular science) dan ilmu agama (relegius science) diajarkan secara bersama tidak ada pemisahan antara keduanya (diintegrasikan), karena menurut beliau ilmu agama (relegius science) adalah cahaya bagi jiwa dan ilmu umum (secular science) adalah cahaya bagi akal. Sebagaimana berikut : The sciences of relgion are the light of the conscience, and the modern sciences are the light of the mind. The truth is manifested through of the combining of the two. The studebts endeavour will take flight on those two wings. When they are sparated, it’s leads to bigotry in the one, and doubles and sceptism in the other (Adem Tatli, 1996: 6).

8. Selalu mengulang pelajaran
Selalu mengulang pelajaran dalam pengajaran adalah hal yang sangat penting untuk pemahaman dan penguasaan siswa terhadap materi pelajaran yang telah mereka dapatkan dan hal ini juga merupakan salah satu langkah tepat untuk mencapai suatu tujuan pembelajaran yang baik dalam dunia pendidikan (Halit Ertugrul, 106-113). Pendidikan juga harus bersifat bebas, terbuka dan bermanfaat bagi masyarakat umum (society).

Penutup
Dari beberapa analisis yang kami lakukan maka dapat diambil kesimpulan dari pemikiran Said Nursi sebagai berikut: 1) Dalam pemikiran Said Nursi adalah salah satu tokoh yang prihatin terhadap kondisi pendidikan Islam yang tertinggal dari Barat, maka untuk memperbaikinya pemikiran yang ditawarkan oleh beliau adanya penyatuan dalam ilmu dan tidak menginginkan adanya dikhotomi/pemisahan ilmu, 2) Pemikiran pendidikan yang ditawarkan Said Nursi dengan usaha mendirikan Madrazat Az-Zahra, namun tidak berhasil dan beliau beralih pada sistem Darkness dan ini sejalan dengan yang dilaksanakan pada pondok pesantren yang selama ini menerapakan metode klasik dengan pelajaran relegius oerinted yang mengkaji ilmu keislaman secara normatif untuk menghadapi kehidupan diakherat, 3) Materi pelajaran yang ditawarkan oleh Said Nursi dan diajarkan kepada siswanya tidak terlepas dari karya maonumental beliau yang tecakup dalam Rasail An-Nur, serta metodologi pengajaran beliau sangat memperhatikan aspek kepribadian peserta didik.
Maka sebagai kesimpulan akhir yang dapat kami kemukakan bahwa pendidikan yang digagas dalam pemikiran pendidikan Said Nursi dengan pendidikan Islam di dunia ini, mulai tampak dan disadari oleh sebagian umat Islam diseluruh dunia pendidikan Islam yag mengingingkan penguasan IPTEK dam IMTAK

End Note
1. Tarikh ini tidak disepakati dikalangan penulis. Tarikh yang disepakati ialah 1293 mengikuti kalender Roma yang diterima pakai secara resmi ketika itu. Oleh karena itu perselisihan ini timbul dalam menentukan Tarikh Hijrah dan Masehi.
2. Timur Turki adalah bahagian Turki yang paling mundur. Ini disebabkan keadaan cuacanya yang terlalu sejuk dan bentuk muka buminya yang berbukit-bakau. Namun begitu, bahagian ini terkenal dengan keindahan dan ketenangan alamnya. Masyarakat tempatan disini yang kebanyakan terdiri dari golongan peladang amat menitik beratkan soal pendidikan agama. Bahagian Timur Turki terkenal dengan pendidikan bercorak tradisional.
3. Mirza berasal dari kawasan Sungai Tigris dan meninggal dunia dalam tahun 1920 dan dikebumikan di Nurs. Nurriyah pula berasal dari Semenanjung Balkan dan meninggal dunia pada semasa tercetusnya Perang Dunia I. Beliau juga di kebumikan di Nursi. Mirza adalah keturunan Hasan b. Ali dan pula berasal dari keturunan Husayn.
4. Nama lengkap ( Jam’iyyah al-Wa at-Taraqi) Oraganisasi Persatuan dan Kemajuan yang didukung oleh pihak luar yang melakukan pengambil alihan kekuasaan dari Sultan Abdul Hamid II.
5. Selama hidupnya, Said Nursi berusaha mendirikan sekolah yang menggabungkan antara pelajaran agama dan umum. Ia meletakkan batu pertama bagi pembangunan sekolah tersebut pada tahun 1911 di dekat Danau Wan. Namun kondisi Perang Dunia Pertama telah menghalanginya untuk menyelesaikan proyek tersebut. Hanya saja Tuhan kemudian memberikan pertolongan sebagai ganti dari sekolah tersebut dengan sebuah ‘sekolah lain’ yang ranting-rantingnya menyebar keseluruh negeri. Ia adalah sekolah an-Nuriyah. Di sini, Said Nursi menganggap murid-murid an-Nur sebagai murid madrasah az-Zahra.
6. “Asha Musa” adalah sebuah karangan Said Nursi yang memuat penjelasan tentang Ilmu Pengetahuan seperti: Geografi, Ilmu alam, Ilmu sosial, dan tentang ajaran Tasawuf dan pengetahuan yang lainnya.
7. “Dzul Fiqar” adalah karya Said Nursi yang menjadi panduan pengajar untuk memberikan teladan kepada siswanya, karena dalam karyanya ini memuat tentang kemu’jzatan al-Qur’an dan juga memuat penjelasan tentang Mu’jizat para rasul dan Nabi-Nabi untuk menjadi pedoman dalam berbuat dalam kehidupan sehari-hari.

Daftar Pustaka

Abdullah, M. Amin, 2003 Etika Tauhidik Sebagai Dasar Kesatuan Epistemologi Keilmuwan Umum dan Agama (Dari Paradigma Posivistik-Sekularistik ke arah Teoantropsentrik-Integralistik). Yogyakarta : Sunan Kalijaga Press.
Al-Hajariy, Himadiy. “Badiuzzaman Said Nursi wa-min fikry al-islahiy fii Turki min hilali kulliyati an-Nur” Disertasi Doktoral pada Institut Azzaitun Fakultas Ushuluddin, (ttp. Tunisia, 1999-2000).
Arifin. 2000 Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Bina Aksara.
Emirdaag Koleksi, (Istanbul, Sozler Yayinevi Turkey: 1998).
Ertugrul, Halit. 1994 “Egitimde Bediuzzaman Modeli. Istanbul : Yeni Asya Yayinlari Sanayi.
Hakan Yakus. Ilim triped. Com. 2000.
Hee Soo Lee. The relations between Risale-I Nur and the confucion tex on Islamic thought. Makalah disampaikan pada : “International Confrence on Modern Islamic Tohought : Exploing the Thought of Badiuzzaman Said Nusi of Turkey and his counterparts in Indonesia ( Joint Cooperation Between Postgraduate Programme of the State Institute for Islamic Studies Raden Fatah Palembang Indonesia and Nesil Foundation of Turkey. Palembang January, 11-12, 2002).
Ilim. triped. Com, 2002.
Kasim Shalihi, Ihsan 2003 (Badiuzzaman Said Nursi). Membebaskan Agama dari Dogmatisme & Sekulerisme, Jakarta: RajaGrafindo Persada.
Mohammad Zaidin bin Mat 2001 “Bediuzzaman Said Nursi Sejarah dan perjuangannya”. Selangor Darul Ehsan, Malaysia : Malita Jaya Publisher.
Nasution, Harun. 1996 “Pembaharuan dalam Islam Sejarah Pemikiran dan Gerakan”. Cet. XIV. Jakarta: Bulan Bintang.
Nata, Abudin 2001 Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam. Jakarta: RajaGrapindo Persada. 2001.
Rahim, Husni 2001“ Arah Baru Pendidikan Islam di Indonesia” Cet.I. Jakarta: Logos Wacana Ilmu.
Said Nursi 2003 “Menjawab Yang Tak terjawab dan Menjelaskan Yang Tak terjelaskan” Jakarta: RajaGrafindo Persada.
-------- 2003 Menikamti Takdir Dari Langit (Lama’at) Alih bahasa : Fauzy Bahreisy. dkk Jakarta: Raja Grafindo Persada.
-------- 1999 “ANA” (Aku) dan Zarah. Alih bahasa : Anuar Fakhri Omar. SDN. BHD. Malaysia : Yayasan Islam Terengganu.
-------- 1997, Hutbah Samiye. (Istanbul, Sozler Yayinevi Turkey)
-------- 2003“Dari Balik Lembaran Suci”, Alih bahasa Sugeng Hariyanto, Cet. I. Jakarta: Prenada Media.
-------- 2003 “Alegori Kebenaran Ilahi”, Cet. I. Jakarta: Prenada Media.
-------- 1997 ”Syari’ah Hilqaat” (Istanbul, Sozler Yayinevi Turkey)
-------- 1997 “Asa-yi Musa”, (Istanbul, Sozler Yayinevi Turkey)
-------- 2003 “Sinar Yang Mengungkap Sang Cahaya (Epistomes Of Light)”. Alih bahasa oleh . Sugeng Hariyanto. dkk ( PT. RajaGrafindo Persada: Jakarta).
Tatli , Adem , Bediuzzaman Education Method, Presented in The Second International Symposium on Bediuzzaman Said Nursi : (The Reconstruction of Islamic Thought in The Twentieth Century and Bediuzzaman Said Nursi, 27-29 September, Istanbul, 1992), hal . 6. Lihat juga. Said Nursi, “Munazarat”. (Istanbul : Zosler Yayinevi, Turkey. 1996).


* Penulis adalah Dosen Luar Biasa pada Fakultas Tarbiyah IAIN Raden Fatah Palembang.



dahri
dahri
Latest page update: made by dahri , Nov 2 2010, 2:38 AM EDT (about this update About This Update dahri Edited by dahri

8224 words added

view changes

- complete history)
More Info: links to this page
There are no threads for this page.  Be the first to start a new thread.